Tugas LKKM-TD Bu Imamatul: Pengalaman Saya Saat Ditolak SNBT
Ada satu momen dalam hidup saya yang rasanya nggak akan pernah saya lupa, hari ketika pengumuman SNBT keluar. Sejak pagi, hati saya sudah berdebar-debar. Saya mencoba mengalihkan pikiran dengan beberes kamar, buka sosmed, scroll TikTok, bahkan pura-pura cuek. Tapi dalam hati, saya tetap menunggu-nunggu jam pengumuman itu. Rasanya campur aduk antara harap dan takut. Sampai akhirnya jam pengumuman tiba. Saya membuka laptop, login perlahan, dan… hasilnya muncul dalam satu kalimat sederhana: “Maaf, Anda belum dinyatakan lulus seleksi.”
Rasanya seperti dunia berhenti berputar. Saya bengong beberapa detik, lalu dada rasanya sesak. Saya sudah membayangkan bagaimana rasanya masuk kampus impian, bagaimana hari-hari saya sebagai mahasiswa, bahkan sudah membayangkan foto pakai jaket almamater. Tapi semua bayangan itu runtuh dalam hitungan detik. Waktu itu, saya cuma bisa menutup layar dan diam. Sedih? Iya. Kecewa? Banget. Malu? Pastinya. Ada rasa seperti gagal memenuhi ekspektasi diri sendiri dan orang lain. Beberapa hari setelah itu adalah masa paling berat. Saya sensitif, gampang sedih, dan kadang menyalahkan diri sendiri. Tapi di tengah semua rasa itu, saya mulai belajar menerima kenyataan. Saya mulai bertanya pada diri saya sendiri: "Kenapa bisa gagal? Apakah saya benar-benar nggak mampu? Atau ada hal yang perlu diperbaiki?"
Setelah beberapa hari, ketika emosinya mulai stabil, saya berusaha jujur pada diri sendiri. Saya mulai menganalisis kenapa saya bisa gagal. Ternyata, beberapa penyebab paling besar, mungkin karena belajar saya tidak konsisten. Ada masa-masa saya rajin banget, tapi ada juga hari-hari di mana saya menunda-nunda, merasa masih punya banyak waktu, atau capek sendiri karena push terlalu keras dalam satu waktu. Lalu Strategi belajar saya kurang tepat.
Saya sering hanya membaca materi tanpa latihan soal yang cukup. Padahal SNBT itu sangat butuh latihan intensif, pembiasaan, dan ritme pengerjaan soal yang cepat. Tekanan mental yang terlalu besar, membuat saya terlalu fokus pada hasil, bukan proses. Akhirnya pikiran saya jadi cepat panik setiap menghadapi soal sulit dan itu mengganggu performa saya. Meskipun pahit, identifikasi itu membuat saya sadar bahwa kegagalan SNBT bukan tentang saya bodoh atau tidak mampu. Tapi lebih ke bagaimana saya mengatur diri sendiri dan bagaimana saya mempersiapkan diri.
Setelah menerima hasil itu, saya belajar untuk berdamai dengan keadaan. Dan di situlah saya mulai mencari cara untuk bangkit. Ada tiga cara yang akhirnya sangat membantu:
1. Menerima Perasaan Saya Dulu
Saya sadar bahwa memaksa diri untuk “harus kuat” justru bikin saya makin tertekan. Jadi saya memilih untuk memberi waktu bagi diri sendiri. Saya menangis, curhat ke teman, bahkan menghindari pembahasan tentang kampus selama beberapa hari. Ternyata menerima perasaan itu bukan tanda lemah, tapi langkah pertama untuk pulih. Setelah emosi stabil, pikiran saya jauh lebih jernih untuk menentukan langkah berikutnya.
2. Memperbaiki Pola Belajar Saya
Saya mulai dari dasar, membuat jadwal belajar yang realistis dan konsisten. Tidak perlu 10 jam sehari yang akhirnya cuma jadi beban. Tapi 2–4 jam berkualitas dengan pola: latihan soal setiap hari, review kesalahan, dan ikut try out untuk lihat progres. Saya juga mulai belajar dengan metode yang lebih cocok buat saya, seperti nonton video pembelajaran, bikin rangkuman kecil, dan mencatat pola soal. Saya nggak mau mengulang kesalahan yang sama.
3. Memperluas Jalan, Tidak Hanya Mengandalkan Satu Pintu
Saya menyadari bahwa jalan menuju masa depan itu tidak cuma satu. Kalau SNBT belum berhasil, bukan berarti hidup berhenti. Yang penting, saya tetap bergerak. Daripada terjebak rasa gagal, saya memilih membuka peluang baru yang mungkin justru lebih cocok buat saya.
Sampai sekarang, ketika saya mengingat momen itu, masih ada sedikit perasaan sedih. Tapi saya juga bersyukur. Karena dari kegagalan itu, saya belajar banyak hal tentang diri saya sendiri. Saya belajar tentang kesabaran, tentang pentingnya konsistensi, tentang cara menghadapi stres, dan tentang bagaimana menerima sesuatu yang tidak selalu sesuai rencana. Ditolak SNBT memang bukan hal yang mudah. Tapi setelah melalui semuanya, saya belajar bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan proses untuk bertumbuh, menemukan sisi diri saya yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih berani mengambil langkah baru.
Sekarang, ketika melihat ke belakang, saya bersyukur pernah jatuh. Karena dari situlah saya belajar berdiri dengan cara yang lebih kokoh.
Mungkin segitu saja cerita pengalaman saya dalam menyelesaikan masalah yang pernah saya hadapi di kehidupan saya. Saya Issabel Putri Kurnia dari kelompok 1 NEURON. Terimakasih
Komentar
Posting Komentar